Minggu, 14 Agustus 2011

Hendardji Serukan Penguatan Karakter Bangsa


Selasa, 2 Agustus 2011
JAKARTA (Suara Karya): Berbagai pihak mendesak pemerintah mengoptimalkan gerakan penguatan karakter bangsa. Ini terkait upaya menghadapi tantangan globalisasi, memperkuat nasionalisme, dan menanggulangi maraknya penyebaran paham radikal yang berpotensi menjadi cikal bakal terorisme.
"Serangan degradasi moral dan ekspansi penyakit sosial masyarakat, semakin meluas. Kita harus terus memberi kekuatan filterisasi guna menghadapi derasnya arus globalisasi. Masyarakat perlu karakter yang kuat. Yaitu, karakter bangsa Indonesia sejati," kata Direktur Utama Pusat Pengelola Kawasan Kemayoran (PKK) Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji yang juga bakal calon gubernur DKI Jakarta, usai pergelaran Romantic Concert oleh Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) Mahawaditra, di Auditorium Bank Indonesia (BI), Jakarta, kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Prof Dr Budi Susilo Soepandji yang juga Pembina OSUI Mahawaditra.
Hendardji bersama Prof Dr Budi Susilo Soepandji, menyerahkan bantuan dana pembinaan yang diwakili Ketua OSUI Mahawaditra Rifky Ferdiansyah. Bantuan pembinaan dimaksudkan sebagai apresiasi terhadap kecintaan dan semangat kerukunan, serta gotong royong dalam berkreasi oleh mahasiswa UI dalam mengembangkan musik orkestra di Tanah Air.
Kekuatan Seni


"Termasuk dalam hal seni, terutama musik, ini sebuah aktivitas yang bisa menggelorakan semangat nasionalisme sekaligus mampu memperkuat karakter bangsa," ujarnya.
Dalam berbagai kesempatan, Hendadji selalu menyampaikan, bahwa dalam keadaan bangsa seperti ini, hanya ada dua hal besar yang bisa menyelesaikannya. "Pertama, kepemimpinan yang kuat. Kedua, berjalan efektifhya sistem pendidikan yang benar. Selain pintar, kita juga membutuhkan manusia Indonesia yang berkarakter," katanya.
Dia juga kerap mengampanyekan kepada generasi muda agar mewaspadai dan mencegah infiltrasi paham yang anti-Pancasila. "Ada sebuah fenomena yang aneh terjadi pada masyarakat kita belakangan ini. Banyak sekali prestasi yang ditunjukkan anak-anak bangsa dalam dunia seni. Mereka sering menjuarai berbagai kompetisi. Ini patut diapresiasi," ujarnya.
Namun, tutur dia. berbagai prestasi itu, sangat kontradiktif dengan perilaku vang ditunjukkan sebagian anak bangsa lain yang bercitra negatif. "Korupsi, terorisme, radikalisme, brutalisme, seakan menjadi hiasan keseharian kehidupan masyarakat kita juga saat ini," ujarnya.
Lebih lanjut, Hendadji mengatakan, perlu rekonstruksi sistem edukasi nasional, terutama pada pendidikan dasar dengan mengedepankan paradigma berbasis pembangunan karakter selain berbasis kompetensi.
Di tempat yang sama, Prof Budi Susilo Soepandji mengatakan, konser OSUI Mahawaditra merupakan kegiatan tahunan yang telah menjadi wadah mahasiswa UI untuk berkreasi di bidang musik orkestra. "Romantic Concert bertujuan untuk mempertahankan perkembangan musik orkestra di Indonesia. Dalam konser ini, OSUI Mahawaditra ingin menambahkan wawasan musik orkestra kepada khalayak umum," ucapnya.
Menurut Budi, dengan lagu-lagu dari zaman romantik yang ditampilkan, Mahawaditra mengenalkan keunikan musik oleh berbagai komposer ternama pada era tersebut. (Yudhiarma)

*Dikutip dari Suara Karya :
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=284117

Konser Romantis Mahawaditra UI


Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Orkestra Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra menggelar konser yang berjudul A Romantic Night with Mahawaditra, Jumat (29/7). Konser tersebut membawakan karya-karya musisi legendaris seperti Mozart, Tchaikovsky, Johan Strauss II, dan Frederic Chopin, yang dimainkan orkestra yang terdiri dari 66 pemain.

Konser terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, menampilkan lagu-lagu yang didominasi alat musik senar (biola, viola, selo, contra bass). Sesi kedua menampilkan lagu-lagu yang dimainkan orkestra secara keseluruhan. Harpis ternama Indonesia, Heidi Awuy, juga tampil memukau di sesi dua dengan memainkan Morceau de Concert for Harp and Orchestra karya Charles-Camille.

Konser itu bertujuan untuk mengenalkan musik klasik kepada masyarakat luas. Animo publik terhadap acara tersebut pun cukup besar. Hal itu terlihat dari 388 orang yang memenuhi auditorium Bank Indonesia, tempat berlangsungnya acara tersebut.

“Konsernya bagus, orkestranya bisa main dengan rapi. Bahkan aku yang sama sekali buta musik klasik, masih bisa sangat menikmati acara ini,” ujar Astrid Astari, 19, mahasiswi Fakultas Ekonomi UI.

Untuk persiapan bermain dalam acara itu, orkestra sudah berlatih sejak tiga bulan yang lalu di bawah bimbingan konduktor utama UKM, Muhammad Dhany Iskandar. “Aku senang bisa bermain di orkes, banyak pelajaran yang didapat. Ternyata main di orkes enggak gampang karena harus saling mendengarkan dan tertib pada peraturan yang ada. Harus mematuhi partitur dan apa yang dibilang sama konduktornya juga,” ucap Amiria Adi Paramita, 19, yang bermain sebagai klarinetis.

*Dikutip dari Media Indonesia :

http://www.mediaindonesia.com/move/?p=1436