Minggu, 21 Juli 2013

Jembatan Selat Sunda dan Perspektif Bangsa

“Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa.

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b'rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai.”



Lagu diatas adalah lagu yang sering diajarkan kepada kita dimasa kanak-kanak dulu. Sudah menjadi momori kolektif bagi bangsa Indonesia bahwa nenek moyang mereka adalah bangsa pelaut. Ukiran tentang kapal layar yang berasal dari masa-masa silam banyak ditemui di goa-goa tempat tinggal manusia pra sejarah. Kedigdayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit adalah puncak dari peradaban masa lalu yang telah mengarungi perairan nusantara bahkan sampai ke Mandagaskar di sebelah timur Afrika . Masa itu dicapai bahkan ketika orang Eropa masih diselimuti mitos bahwa bumi itu datar dan terdapat jurang yang sangat dalam di ujungnya. 

Masih terngiang-ngiang dibenak penulis bagaimana gencarnya kurikulum sekolah dasar kita yang mengajarkan kepada peserta didiknya bahwa Indonesia adalah negara dengan 2/3 wilayahnya adalah laut, ditaburi 17.500 pulau nusantara, dan terletak di posisi strategis antara dua benua Asia-Australia dan 2 samudra Pasifik dan Hindia. Potensi historis,geografis, dan ekonomi tersebut nampaknya nyaris tak terasa dalam kebijakan-kebijakan pemerintah kita, dalam hal ini adalah eksekutif maupun legislatif.

Salah satu kebijakan pemerintah  yang tidak menunjukkan visa maritime itu adalah niat mereka untuk membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan menghubungkan pulau Sumatra dan Jawa. Megaproyek ini dikabarkan akan menghabiskan dana sampai  Rp 150 T – 170 T, jumlah yang fantastis. 

Menurut hemat penulis, Jembatan Selat Sunda ini adalah salah satu kekeliruan pemerintah yang nyata dalam memandang bangsa kita dalam visinya dan mengimplementasikan untuk pembangunan bangsa ini. Kekeliruan tersebut antara lain:

Proyek ini secara tidak langsung mencerminkan keangkuhan pusat dalam memandang daerah lain di Indonesia. Pulau Sumatra seolah-olah dianggap tidak memiliki potensi dan kemampuan mengembangkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sendiri dan harus bergantung dari  Jawa. Padahal, Sumatra adalah pulau besar dan sangat kaya sumber daya. Jika infrastruktur di Sumatra seperti jalan raya dan rel kereta dibangun maka tidaklah hal yang mustahil bahwa Sumatra akan menjadi Pulau yang maju dan mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri.
Jembatan berpotensi mengganggu jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II). Selat Sunda adalah wilayah perairan yang padat, tidak hanya pelayaran domestik, pelayaran internasional juga banyak yang melintasi wilayah ini.  Selat Sunda bahkan disebut perairan terseibuk di nusantara yang menghubungkan dua pulau besar yang berpenduduk terbanyak di Indonesia. Dua pulau ini yang terpisah oleh celah yang permukaannya tidak datar oleh jembatan alamiah air laut untuk melintasnya kapal-kapal.  Harusnya pemerintah mengembangkan sistem pelabuhan yang mumpuni sehingga ramai dikunjungi pelayaran internasional, tidak hanya sekedar numpang lewat. Singapura adalah contoh baik yang mampu memanfaat potensi geografis seperti ini.
Rawan Bencana. Daerah Selat Sunda adalah wilayah patahan lempeng tektonik dan terdapat banyak gunung berapi aktif.  Letusan Gunung Krakatau yang begitu dahsyat bahkan sampai dirasakan efeknya ke Eropa dan kabutnya sempat menyelimuti atmosfer bumi beberapa waktu. Beberapa pakar sudah memprediksi bahwa potensi bencana ini agak sulit ditangkal oleh teknologi manusia sekarang. Apa jadinya jika proyek bernilai ratusan triliun musnah/rusak oleh bencana yang sebenarnya sudah kita prediksi kedatangannya?




Peta Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)

Menyia-nyiakan pengakuan dunia terhadap negara maritime Indonesia yang secara tegas diakui lewat UNCLOS 1982. Selain itu kita juga telah menafikan usaha PM Djuanda lewat Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa perairan antar pulau di nusantara termasuk wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Usaha Djuanda untuk membuktikan diri sebagai bangsa bahari dengan klaim wilayah laut tersebut kepada dunia seolah dimentahkan oleh kebijakan penguasa setelah jamannya yang lebih Land Oriented. Harusnya, sebagai bangsa besar yang berjiwa maritime, kita memandang lautan bukanlah sebagai pemisah, melainkan sebagai penyatu. Kontur dasar laut adalah tidak datar bahkan ada yang berlembah-lembah dan berbukit bukit. Kasarnya kontur permukaan tersebut dibuat datar oleh adanya permukaan air yang menjadi jembatan alami yang dapat dilalui bukan oleh mobil dan motor, tetapi kapal.

Bahaya terbesar dari megaproyek mubazir ini adalah mematikan visi maritim bangsa. Dengan pembangunan jembatan yang menelan biaya fantastis ini telah ikut membuat pembangunan di sektor kelautan seperti pelabuhan, pengadaan armada kapal, usaha galangan kapal, dll menjadi tersendat atau kurang diperhatikan. Padahal menurut Bung Karno, “Untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai yang merupakan National Building bagi negara Indonesia, maka negara harus dapat menguasai lautan. Untuk menguasai lautan kita harus menguasai Armada yang seimbang.” (Pidato Bung Karno dalam National Maritime Convention tahun 1963).

Selain itu, dengan sistem jembatan, pola transportasi penduduk akan semakin bergantung pada sektor darat yang sebenarnya sudah terlalu padat dipenuhi kendaraan pribadi. Bahkan di sector darat system angkutan masal pun tidak terkelola dan dikembangkan dengan baik. Ini akan menyebabkan polanya lama-lama akan makin mematikan visi masyarakat akan potensi maritime yang masih terbentang luas.

Demikianlah padangan awam saya terhadap pembangunan Megaproyek Jembatan Selat Sunda, semoga teman-teman bisa menambahkan atau mengoreksi pandangan saya terhadap kekeliruan pemerintah dalam memandang pembangungan bagi bangsa kita yang besar ini. 

Selasa, 02 April 2013

Sejarah Solmisasi


Tangga nada yang kemudian menjadi dasar dari notasi musik ini ternyata ditemukan oleh para ilmuwan Muslim. Fakta penting ini diungkapkan pertama kali oleh Jean Benjamin de La Borde, seorang ilmuwan dan komponis Perancis, dalam bukunya Essai sur la Musique Ancienne et Moderne (1780). Dalam bukunya ini La Borde secara alfabet menyebut notasi musik yang diciptakan oleh sarjana Muslim. Notasi itu terdiri atas silabels (yang kita kenal sebagai solmisasi) dalam abjad Arab, yaitu Mi Fa Shad La Sin Dal Ra. Menurut La Borde, notasi abjad Arab ini kemudian ditransliterasikan oleh ilmuwan Eropa ke dalam bahasa Latin, yang entah bagaimana diklaim sebagai himne St. John.

Transliterasi ini digunakan pertama kali oleh pemusik Italia Guido Arezzo (995-1050) yang terkenal dengan teori Guido’s Hand-nya. Program British Channel 4 yang menayangkan acara sejarah musik mengatakan bahwa Guido-lah pencipta sistem solmisasi, tanpa sedikit pun mengungkapkan fakta temuan oleh ilmuwan Muslim. Namun, La Borde tidak sendirian. Komposer Eropa lain, Guillaume-André Villoteau (1759-1839), mengambil sikap seperti La Borde, yakni mengakui bahwa solmisasi adalah ciptaan orang-orang Islam.

La Borde melakukan penelitian dengan cara membanding-bandingkan antara notasi yang berasal dari Guido’s Hand dengan notasi berabjad Arab. La Borde sampai pada kesimpulan bahwa Guido’s Hand tidak lebih contekan Guido Arezzo dari sistem notasi yang ditemukan oleh sarjana Muslim.

“Secara fisik, tampilan solmisasi berabjad Arab itu berfungsi sebagai model yang ditiru oleh Guido Arezzo,” tulis La Borde. Ia kemudian membuat monograf yang menampilkan perbandingan yang kritis antara model solmisasi temuan ilmuwan Muslim dan solmisasi yang dibuat Guido Arezzo yang kemudian diakui sebagai notasi musik hingga kini.
Notasi Arab digunakan sejak abad ke-9, yaitu ketika ahli-ahli musik Muslim seperti Yunus Alkatib (765) dan Al-Khalil (791), peletak dasar sistem persajakan dan leksikografi Arab, yang diikuti oleh Al-Ma’mun (wafat 833) dan Ishaq Al-Mausili (wafat 850), memperkenalkan sistem notasi dalam bermusik dalam bukunya yang terkenal di Barat, Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs, selain Kitab Al-Mausiqul Kabir-nya Ibn Al-Farabi (872-950).

Temuan Al-Ma’mun dan Al-Mausili diteliti dan dikembangkan oleh Abu Yusuf bin Ishaq Al-Kindi (801-874), Yahya ibn Ali ibn Yahya (wafat 1048), Ahmad Ibn Muhammad As-Sarakhsi (wafat1286), Mansur Ibn Talha bin Tahir, Thabit ibn Qurra (wafat 1288), dan ilmuwan Muslim lainnya. Dominucus Gundissalinus (wafat 1151) dan The Count Souabe Hermanus Reichenau, dua ahli musik Barat, meneliti dan mengembangkan temuan Al-Kindi. Selain itu, teori-teori musik yang diciptakan Ibnu Sina dan Ibnu Rushd juga berpengaruh pada perkembangan musik Eropa sebagaimana teori-teori mereka dalam ilmu kedokteran.

Sebelum Guido Arezzo mengklaim notasi musik dengan Guido’s Hand-nya, teori musik telah berkembang pesat di Spanyol melalui Ziryab (789-857), pemusik andal dan ahli botani yang hijrah dari Baghdad, dan Ibn Firnas (wafat 888) yang memperkenal musik oriental kepada masyarakat Spanyol dan mengajarkannya untuk pertama kali di sekolah-sekolah di Andalusia.
Soriano, seorang peneliti musik asal Spanyol, mengungkapkan fakta tentang Guido Arezzo. Pemusik yang dianggap sebagai penemu notasi musik itu mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang memuat temuan-temuan di bidang musik oleh ilmuwan Muslim.

Hunke, peneliti lain, menulis bahwa notasi abjad Arab yang membentuk notasi musik ditulis dalam Catalogna pada abad ke-11 dan diterbitkan di Monte Cassino, sebuah daerah di Italia yang pernah dihuni oleh komunitas Muslim dan tempat yang pernah disinggahi Constantie Afrika, ilmuwan Muslim asal Tunisia yang masuk ke Italia melalui Salerno. Salah satu ilmu yang diajarkan oleh Constantine Afrika kepada orang-orang barbar dan terbelakang di Salerno adalah musik. Semua terjemahan yang dilakukan Constantine Afrika terhadap buku-buku temuan ilmuwan Muslim memang menjadi acuan para pelajar Eropa.

Apalagi, Constantine juga membuka kesempatan kepada mereka untuk belajar ke Spanyol, yang ketika itu sedang diramaikan oleh kuliah musik dengan guru besar para ilmuwan/musikus Muslim seperti Ziryab dan Ibn Farnes. Banyak pelajar lulusan sekolah musik di Spanyol berasal dari Italia, salah satunya adalah Gerbert Aurillac (wafat 1003), yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar musik di negara-negara Eropa dan melahirkan banyak pakar musik Barat.

Sumber : http://www.bengkelmusik.com/forum/showthread.php?t=11580

Sabtu, 30 Maret 2013

“Kenapa Indonesia tidak menjadi negara maju?”

Anda tahu kenapa Indonesia tidak menjadi negara maju?
Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu & mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.
Mari kita buktikan :
“Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru …
meletus balon hijau , dorrrr!!!”
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau?
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -:)
“Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang…kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!”
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait
kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop!
jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :
“mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..”
itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!
“Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!
“Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon
cemara..2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!
“Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Sby.. bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama”
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah
dewasa maunya gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang dan Jakarta-Surabaya!
“Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak
jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..”
Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg
sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit !
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak2 dgn presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah tra la la tri li li!), bukan burung!
“Pok amé amé.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum
susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak2!
Karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak
kecil.
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya
minum susu!
“Nina bobo nina bobo oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam.
“Bintang kecil dilangit yg biru…”
(Bintang khan adanya malem, lah kalo malem mang warna langitnya biru?)
“Ibu kita Kartini…harum namanya”
(Namanya Kartini atau Harum?)
“Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka”
(Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka??)
“Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
(kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur….
——————————- saya ingin menyampaikan jawaban yang serius, sbb:————————
“Mengapa Mereka bisa Maju dan Indonesia tetap Terbelakang?”
  1. Perbedaan antara Negara Berkembang/Miskin dengan Negara Maju/Kaya bukan karena umurnya: buktinya, Mesir dan India berumur lebih dari 2000 tahun, sedangkan Astralia, Singapura, Kanada dan New Zealand baru berumur kurang dari 150 tahun, tetapi jauh lebih maju.
  2. Ketersediaan Sumber Daya Alam juga tidak menjamin sebuah negara menjadi maju atau tetap miskin, contohnya, Jepang adalah negara yang kecil ukuran daratannya, serta terbatas sumber daya alamnya, namun bisa menjadi raksasa Ekonomi Dunia, dengan cara mengimpor bahan2 baku dari negara2 berkembang, den mengekspor produk2 jadi ke L.N.
  3. Ras atau warna kulit bukan menjadi penyebab maju atau terbelakangnya sebuah negara, buktinya para imigan asal Asia dan Afrika bisa menjadi Eksekutif, Tenaga Ahli atau Karyawan yang produktif, kreatif dan innovatif ketika mereka tinggal di Amerika atau Eropa.
Kesimpulan dari Analisis tersebut diatas: Perbedaannya ada pada Sikap atau Perilaku (Attitude) dari masyarakat masing-masing negara yang terbentuk melalui proses ratusan tahun dari pendidikan dan kebudayaan.
Berdasarkan penelitian yang mendalam, Negara-negara maju umumnya memiliki 9 Prinsip DasarKehidupan sbb:
  1. Etika yang dijunjung tinggi
  2. Kejujuran dan Integritas Masyarakat, Pemerintahan dan Individu yang tinggi
  3. Sikap yang mau bertanggung-jawab
  4. Menghormati hukum dan aturan masyarakat
  5. Menghormati hak warga atau orang lainnya
  6. Mencintai dan menekuni pekerjaan masing-masing
  7. Gemar menabung dan ber-investasi (tidak boros, konsumtif)
  8. Bekerja keras
  9. Tepat waktu
Kesimpulannya, Indonesia miskin dan tetap terbelakang karena masyarakatnya berperilaku kurang tepat, kurang baik, tidak mau menerapkan 9 Prinsip Dasar Kehidupan tersebut diatas sebagaimana layaknya yang dilakukan di banyak negara-negara maju di Dunia ini.
Semoga menjadi renungan kita semua untuk menerapkan 9 Prinsip Dasar Kehidupan tersebut diatas.
(Sumber: saduran dari bahasa asing oleh Bapak Boedi Dayono, Januari 2004)

Senin, 21 Januari 2013

MENGAPA TIDAK ADA ‘KAMPUNG MINANG’? : Catatan tambahan untuk artikel Mathias Pandoe


Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (sic) yang dimuatPadang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar negeri, tidak hidup dalam sebuah enclave seperti beberapa etnis lainnya?

Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan “orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu muncul pada orang Minang?
Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini yang, sayangnya, hanya disinggung sedikit saja dalam artikel itu. Tulisan ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias yang sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya baca.
Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.
Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepulauan Nusantara melalui serikat dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi kependudukan wilayah kepulauan ini. Banyak kelompok etnis melakukan penghijarahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi).
Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan bahwa pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal. Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidak bisa berkomunikasi dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di wilayah yang sama di tempat yang baru itu.
Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa (seperti Batavia dan Surabaya)seperti Kampung Bali, Kampung Ambon, dan Kampung Bugisdisebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-budak dari daerah itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari wilayah itu:
1) yang diperdagangkan;
2) yang dibawa paksa oleh Belanda ke Batavia sebagai tenaga kerja;
3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’ oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.
Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil bumi setempat, dan budak (biasanya disebut abdilasykarbingkisan, dan kiriman).
Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda berikut ini (garis bawah oleh Suryadi): “Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta keadaanenam orang abdi laki2 yang tiada sepertinya. Maka yang seperti kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada Tuan Gurnadur Jenderal dengan segala Rat van [I]ndia yang sebagaimana yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.2).
Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799): “Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanyadua lapan orang bingkisan kepada Kompeni dan dua orang kiriman kepada Tuan Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.44).
Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) Kompeni Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah beberapa orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja lokal di Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia. Bayangkan jumlah budak yang menyertainya.
Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya raja-raja Bali juga royal mengirimkan hadiah budak kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.
F. de Haan dalam buku laborious-nya, Oud Batavia (1935) mencatat bahwa beberapa nama kampung di Batavia pada awalnya dibangun dan dihuni oleh budak-budak yang dimerdekakan. Misalnya, kawasan Maggarai di Jakarta sekarang dulunya dibangun oleh budak-budak yang berasal dari daerah Manggarai, Flores Barat. Demikian pula halnya Kampung Bali yang dulunya dibangun oleh budak-budak yang dibawa dari Pulau Bali.
Kasta budak tidak ada dalam struktur sosial kelompok-kelompok etnis yang hidup di Indonesia barat. Kalaupun ada kelas rendah, itu biasanya didasarkan atas kategori kepemilikan harta. Etnis Minangkabau apalagi: jangankan jadi budak, diperintah saja mereka sulit. Bukankah mereka cenderung memilih jadi pedagang K5 yang menjual beberapa pasang kaus kaki ketimbang jadi tukang becak?
Raja-raja atau penghulu Minang dulu kalau mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia menyertai emas sebagai buah tangan, bukan budak. Simak kutipan kalimat penutup surat Panglima Raja di Hilir, Penghulu Kepala kota Padang di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarah ini tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya lima belas tahilmas kepala, serta kami minta selamat sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal dan sekalian Tuan Raden van India” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792).
Danhe he, tanda si Padang pelit (cimpilik kariang?)Panglima Raja di Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “Sekarang suatupun belumapa2 persembahan daripada kami melainkan hanya hati putih selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur Jenderal dan segala Tuan orang besar [Raadvan India serta sekalian umur panjang jua adanya.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794).
Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontansatu ciri merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi: orang Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau disebut sebagai “bicaro gaduang“. Oleh sebab itu para perantau Minang tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang sudah lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam komunikasi antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di Minangkabau juga ikut mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang Minang di rantau.
Faktor-faktor di atassifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau sendiri dan juga faktor kebahasaantidak saja mempengaruhi jenis pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga mempengaruhi cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang dari kelompok etnis lain.
Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda
Dimuat di Padang Ekspres 28 Oktober 2008 (Teras Utama)
Sumber : http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/6#comment-2299

Minggu, 20 Januari 2013

Setting Email di Microsoft Outlook

Tutorial ini tidaklah saya buat sendiri. Saya repost  setelah beberapa kali saya gunakan kembali untuk mengatur berbagai email yang saya punya dari berbagai penyedia jasa email. Semoga ini dapat bermanfaat buat semua yang membutuhkan.


Setting email yahoo Gratisan (yahoo.com, ymail.com , rocketmail.com dan yahoo.co.id ) di outlook 2007 , sangatlah mudah apalagi anda yang berdomisili di Indonesia , caranya sebagai berikut. Anda harus mempunya email yahoo.com , ymail.com , rocketmail.com atau yahoo.co.id yang  Account Settings “Yahoo Indonesia” dan khusus yahoo.com Account Settings-nya bisa “Yahoo Asia” Untuk mengetahui apakah email Anda dengan Account Setting Indonesia atau Asia , masuk/ login ke account email Anda dan lihat logo yahoo disebelah kiri atas seperti gambar ini
 Oleh karena itu, jika account setting email bukan Indonesia atau Asia ( khusus yahoo.com) maka Anda harus merubahnya dengan cara Masuk dalam Account Info , biasanya dengan meng-klik 2kali username anda yang berada disebelah atas Kiri atau kanan tergantung versi email yang anda gunakan.  Untuk dapat masuk dalam account info anda, yahoo meminta password email. Setelah anda berada dilembar Account Info cari baris seperti gambar ini
Sekarang Anda berada di tab/ lembar browser yang baru (tab lama boleh anda tutup)
klik “Set language, site, and time zone”  dan pada Regional Site and Language: isikan Yahoo Indonesia atau Yahoo Asia dan padaTime Zone : isikan GMT +07:00 Bangkok,  Hanoi, Jakarta dan jangan lupa Save
Kemudian klik 2x username anda dan anda berada dilembar baru yahoo.pulse , kemudian klik logo email yang berada di kanan atas dan membawa anda ke lembar acount email yang baru
Kemudian browse menu  Option (disebelah kanan atas ) pilih mail option atau Option lainnya untuk membawa anda kelembar berikut ini :
Apabila Anda tidak menemukan halaman seperti diatas berarti Anda gagal melakukan setting Account Info (Set language, site, and time zone”  )dan anda harus mengulanginya.
klik POP & Forwarding dan akan tampil gambar seperti ini
Klik atau centang  : Allow your Yahoo! Mail to be POPed lalu simpan (klik Save Change)
Sampai disini, Account Email siap disetting kedalam Outlook 2007

Cara setting email di Outlook 2007

Masuk ke aplikasi Outlook 2007
Klik Tools –>> Options –>> Mail Setup –>> Email Accounts –>> New
sampai muncul lembar ” Add New E-Mail Account seperti gambar ini
centang –>  Microsoft exchange , POP3, IMAP or HTTP  –>> Next
Pada lembar Auto Account Setup , isikan Nama , Email dan password 2x serta centang Manual Configure server or additional server types –>> next
Pada lembar Chose E-Mail Service centang eternet E-Mail —->>> Next
Pada lembar eternet email settings
Server Information :
Account Type —>> POP3
Incaming Mail Server —>> pop.mail.yahoo.com
Outgoing Mail Server (SMTP) —->> smtp.mail.yahoo.com
kecuali yahoo.co.id —>> yahoo.com diganti dengan yahoo.co.id
Loging Information
User name : diisi alamat email lengkap (contoh@yahoo.co.id , contoh@ymail.com, contoh@rocketmail.com ) , kecuali contoh@yahoo.com  boleh contoh saja.
Selanjutnya klik —> More setting
outgoing server , centang My Outgoing server (SMTP) requires authentication
Advanced –>> use defaults
Delivery –>> centang leave a copy of massages on the server dan remote from server when delete from delete item, maksudnya email yang masuk ke outlook tidak terhapus di-server yahoo
Selanjutnya klik OK
Anda bisa lakukan test account setting atau langsung klik next untuk selesai/ finish
Jangan lupa jika anda mempunyai banyak account email sebaiknya setiap account dibuatkan direktori tersendiri yaitu pada lembar email account (yang terlihat daftar email anda) , sorot salah satunya kemudian klik  change folder dan buatlah folder yang anda kehendaki
dan seterusnya melihat keberhasilan setting anda , pilih menu send / receive (bar menu) — sorot :account email anda — lalu klikinbox  dan tampak progres di sudut kanan bawah layar komputer anda.
Kemungkinan kegagalan ada di email yahoo.com pada setting account Yahoo Asia oki sebaiknya anda setting ke Yahoo Indonesia.
selamat ber outlook !!!!!!!!
Catatan penanganan masalah :
Apabila outlook anda bermasalah dengan setting tersebut diataslakukan hal seperti berikut
Di bawah “Incoming Server (POP3)”, centang kotak di samping “This server requires an encrypted connection (SSL)\”. Nomor portal di kolom “Incoming Server (POP3)\” seharusnya berubah secara otomatis dari 110 menjadi 995. Bila tidak, pastikan nomor portal diatur ke 995.
Di bawah “Outgoing Server (SMTP)”, centang kotak di samping “This server requires an encrypted connection (SSL)\”. Masukkan nomor portal “465” di kolom “Outgoing Server (SMTP)”.
Kami sangat merekomendasikan Anda untuk mengaktifkan SSL baik untuk POP maupun SMTP, sebagaimana diperinci dalam instruksi di atas. Hal ini akan memastikan bahwa ID Yahoo!, sandi dan pesan email Anda ditransmisikan secara aman antara klien email Anda dan server Yahoo!. Meski demikian, bila Anda memilih untuk tidak menggunakan SSL untuk SMTP, klien email Anda kemungkinan akan menstandarkan portal SMTP ke 25. Bila ISP Anda memblokir portal 25 atau bila Anda tidak dapat mengirim email, maka Anda akan perlu menggunakan portal 587 saat mengirim melalui server SMTP Yahoo!.

Sumber : http://amhaynet.wordpress.com/2011/06/16/setting-email-yahoo-di-outlook/