Selasa, 22 Juni 2010

Sandi Basandi Rang Minangkabau

Jika ditelusuri sampai sedalam - dalamnya, seteliti - telitinya, maka akan ditemukan sebuak dasar dari segala ajaran hidup orang - orang yang tinggal di tengah Pulau Andalas. Meraka para Minang tulen selalu menjunjung tinggi ajaran yang satu ini :

Adat basandi syarak,

Syarak basandi kitabullah.

Syarak mangato,

Adat mamakai.
Tak dapat dipungkiri, ajaran ini baru ada setelah sebuah perjanjian yang dibuat di Bukit Marapalam disyahkan. Jika dicermati lebih dalam, maka akan terasa sebuah makna yang dalam dan indah dari pernyataaan itu. Pilihan kata yang cerdas dan susunan kalimat yang anggun.

Jika kita jujur, diantara sekian banyak nama yang mendirikan republik ini, kehadiran cerdik - cendikia dari Minang tak dapat dipandang sebelah mata. Sebut saja Moh. Hata, Tan Malaka, Amir Syarifuddin dan masih banyak lagi. Mereka adalah orang orang terpilih yang datang dari suku bangsa yang lebih dahulu dikaruniai tuhan YME kemampuan bersastra tinggi di bumi Ibu pertiwi. Kecerdasan mereka tak perlu rasanya diuraikan lagi.Cukuplah karya dan kontribusi mereka bagi negara kita tercintalah yang bicara. Dari sinilah kita dapat memahami mengapa falsafah hidup yang agung itu dapat keluar dari suku ini. Mereka dengan latar sejarah, agama, dan kebudayaan yang dinamis selalu berpikiran terbuka dan luas.

Sebenarnya kalau kita pelajari lebih jauh, maka kita akan dapat melihat begitu banyak kosa kata bahasa Indonesia disumbang oleh sebuah suku minoritas ini. Seberapa besarkah pengaruh - pengaruh itu pada dunia sastra Indonesia saat ini? tunggu lanjutan tulisan saya di kesempatan yang akan datang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar